Tipu Pengusaha Hingga 3,8 Milyar, Residivis Kembali Masuk Penjara

Cibinong – Pengadilan Negeri (PN) Cibinong menjatuhkan vonis 3,6 tahun penjara kepada Nasrudin, terdakwa kasus penipuan dengan nilai kerugian mencapai 3.8 milyar. Vonis yang diberikan, lebih tinggi dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menuntut terdakwa selama 3 tahun penjara.

Majelis hakim yang dipimpin oleh Indra Meinantha Vidi dalam persidangan menyatakan, terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penipuan terhadap PT. Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSA) cabang Bogor dengan kerugian mencapai 3,8 Milyar.

“Vonisnya 3 tahun 6 bulan, kalau tuntutannya itu 3 tahun. Jadi lebih tinggi dari tuntutan,” kata Humas PN Cibinong, Ben Ronal saat dikonfirmasi, Senin (3/2/2020).

Ronald mengaku belum bisa memastikan apa pertimbangan hakim sehingga memvonis terdakwa dengan hukuman yang lebih tinggi dari tuntutan JPU. Namun perlu diketahui, terdakwa merupakan seorang resedivis yang pernah divonis 2 tahun penjara oleh PN Tanjung Karang, Lampung dan divonis 2 tahun penjara karena kasus penipuan.

Terdakwa Nasrudin dijebloskan di Lembaga Pemasyarakatan Way Hui pada Oktober 2018, dan sempat mengajukan pembebasan bersyarat pada Oktober 2019. Tak sempat lama menghirup udara bebas, terdakwa langsung diciduk Polres Cibinong karena kasus penipuan hingga akhirnya terdakwa disidang di PN Cibinong.

“Kalau soal apa pertimbangan hakim (sehingga memvonis lebih tinggi dari tuntutan), saya belum tahu. Karena kan saya belum membaca draft-nya ya,” terangnya.

“Kalau saya dengar-dengar, terdakwa ini juga pernah dihukum karena kasus penipuan. Tapi saya belum bisa pastikan apakah itu yang jadi pertimbangan hakim (memberi vonis kebih tinggi dari tuntutan). Saya harus baca dulu draf putusannya,” sambung Ronald.

Dari informasi dihimpun, kasus penipuan ini berawal ketika Nasrudin memesan produk berupa keramik merek arwana kepada PT. CSA cabang Bogor senilai Rp. 3,829 milyar pada Bulan Desember 2016 hingga Maret 2017. Untuk memesan keramik tersebut, Nasrudin mengatasnamakan Toko Lumbung Kemurahan Keramik yang diketahui milik saudara iparnya di Cinere, Depok.

Setelah jatuh tempo dan ketika PT. CSA cabang Bogor melakukan penagihan, pihak Toko Lumbung Kemurahan Keramik mengaku tidak mengetahui dan tidak bertanggung jawab atas transaksi Rp 3,4 M yang dilakukan terdakwa Nasrudin yang melakukan pemesanan dan yang menerima barang.

Terdakwa sempat melakukan pembayaran senilai Rp. 200 juta dan Rp.400 juta, sementara sisanya dibayarkan melalui Bilyet Giro yang ternyata kosong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here