Tingkatkan Produktivitas Pertanian di Sulsel, Pembangunan Bendungan Pamukkulu Dikebut

37
Bendungan Pamukkulu, di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. (Foto: info31.id/Pool/Dok. Kementerian PUPR)

TAKALAR, info31.id – Penyelesaian pembangunan Bendungan Pamukkulu, yang terletak di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel), tengah dikebut Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Ditargetkan Bendungan Pamukkulu dapat diairi pada awal tahun 2024. Saat ini, progres konstruksi bendungan yang dibangun sejak 15 November 2017 tersebut sudah mencapai 22 persen. Bendungan Pamukkulu dibangun untuk meningkatkan keberlangsungan suplai air bagi lahan pertanian di Sulsel sebagai lumbung pangan nasional.

“Di Sulsel, masih terdapat hamparan lahan persawahan di atas 3.000 hektare yang sulit ditemui di daerah lain. Produktivitasnya kita tingkatkan dengan ketersediaan air dari bendungan,” ujar Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Jumat 19 November 2021.

Baca Juga: Bendungan Sepaku Semoi Diperkirakan Kelar Awal Tahun 2023

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Adenan Rasyid mengungkapkan, bendungan ini direncanakan akan memiliki kapasitas tampung sebesar 82,5 juta meter kubik dan diharapkan dapat mengairi lahan seluas 6.256 hektare.

Diharapkan dengan keberadaan Bendungan Pamukkulu, Indek Pertanian (IP) di Kabupaten Takalar akan meningkat dari 150 persen menjadi 250 persen dengan pola tanam padi-padi-palawija.

“Manfaat lain dari Bendungan Pamukkulu adalah sebagai penyedia air baku untuk Kabupaten Takalar sebesar 160 liter/detik, dapat mereduksi dan mengendalikan ancaman banjir, dan sebagai konservasi untuk air tanah. Kemudian bendungan ini juga memiliki potensi untuk pembangkit listrik tenaga air sebesar 4,3 megawatt, serta dapat dimanfaatkan untuk pariwisata,” ujar Adenan Rasyid.

Pembangunan Bendungan Pamukkulu mengalokasikan anggaran sebesar Rp1,6 miliar, di mana pembangunannya juga menerapkan pola Padat Karya Tunai (PKT).

“Kegiatan PKT dilakukan untuk rehabilitasi saluran irigasi di Daerah Irigasi (DI) Bendung Pamukulu. Kegiatan ini dilakukan melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air dan Irigasi (P3TGAI) yang tersebar di 20 titik di 7 desa, 1 kelurahan dan 1 kecamatan. Setiap titiknya melibatkan sebanyak 25 orang petani,” terangnya.

Program PKT juga dilakukan pada konstruksi Bendungan Pamukkulu, yakni untuk pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus (kompleks) dan dapat dilakukan tanpa alat berat, misalnya untuk galian saluran dan menyusun batu urugan.

“Kami melibatkan masyarakat/warga setempat sebagai pelaku pembangunan. Skema ini bertujuan untuk mengurangi angka pengangguran dampak dari pandemi COVID-19,” pungkasnya.