Pilgub Jambi: Sengit, Cek Endra–Ratu Munawaroh Bertengger di Puncak

Jambi, Info31.id – Kepastian pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 9 Desember 2020, membuka ruang perubahan peta politik di daerah-daerah seluruh Indonesia. Pertarungan antar pasangan calon (kandidat) pada masing-masing kabupaten/kota dan provinsi dipastikan berlangsung sengit, tidak terkecuali di Provinsi Jambi.

Pengamat Politik Mukhri Soni yang juga merupakan alumni Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional menyebut hal itu dipicu oleh bersatunya dua tokoh berpengaruh dengan basis massa cukup kuat di daerah masing-masing, yaitu pasangan Cek Endra – Ratu Munawaroh.

Tidak sulit untuk mengukur kekuatan pasangan kandidat tersebut, Cek Endra, misalnya, memiliki basis massa di Kabupaten Sarolangun. Di sana, ia telah membuktikan kekuatannya dengan menjabat Bupati selama dua priode yaitu tahun 2011 dan 2016. Kemudian, Ratu Munawaroh adalah istri mantan Gubernur Jambi dua periode, Zulkifli Nurdin – ayah kandung Zumi Zola yang juga pernah menjabat sebagai Gubernur Negeri Sepucuk Jambi Sembilan Lurah tersebut.

Dilihat dari kekuatan basis massa, jelas tidak diragukan. Pada Pemilu Legislatif (Pileg) tahun 2009, Ratu Munawaroh sukses mendulang suara terbanyak (157.651) sehingga Partai Amanat Nasional (PAN) bisa meraih dua kursi DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Provinsi Jambi.

“Ini juga membuktikan bahwa loyalis mantan Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin yang dilanjutkan oleh Zumi Zola masih menjadi kekuatan besar untuk mendongkrak perolehan suara bagi pasangan Cek Endra – Ratu Munawaroh pada Pilgub Jambi, Desember 2020 mendatang,” beber Mukhri – sapaan akrabnya – kepada Info31.id, Senin (29/6/2020).

Pun tiga pasangan lain, lanjut dia, memiliki basis massa yang tidak bisa dianggap enteng. Adapun ketiganya adalah Syarif Fasya – Assafri Jaya Bakri (AJB), Al-Haris Abdullah Sani dan Fahrori Umar – Syafrial M.S. Secara rinci, pasangan Fasya – AJB sama-sama pernah menjabat dua periode, yaitu Walikota Jambi (2013–2018 & 2018–2023) dan Walikota Sungai Penuh (2011-2016 & 2016-2021).

AJB berpotensi meraih suara terbanyak di Kerinci karena Kota Sungai Penuh merupakan daerah hasil pemekaran dari kabupaten tersebut. Selain itu dirinya termasuk salah seorang profesor terpandang di dunia pendidikan, penah menjabat Rektor IAIN Sultan Taha Jambi dan STAIN Kerinci.

Sedangkan pasangan Al-Haris – Abdullah Sani memiliki basis di Kabupaten Merangin dan Kota Jambi. Al-Haris merupakan Bupati Merangin dua priode (2006-2011 & 2016-2021) dan Abdullah Sani, Wakil Walikota Jambi (2013-2018) yang juga tokoh etnis Jawa – saat ini Ketua Paguyuban Jawa Provinsi Jambi. Selain itu, Abdullah Sani adalah seorang ulama dan akademisi yang terkenal lebih merakyat.

“Jumlah suara etnis Jawa di Provinsi Jambi cukup signifikan mencapai 40% dari total mata pilih yag tersebar pada 11 kabupaten/kota terutama di wilayah transmigrasi. Kekuatan akan bertambah manakala dukungan mantan Gubernur Jambi Hasan Basri Agus (HBA) diberikan kepada pasangan Al-Haris – Abdullah Sani,” imbuhnya.

Pasangan terakhir, Fahrori Umar – Syafrial M.S diperkirakan memiliki kekuatan merata pada hampir seluruh daerah di Provinsi Jambi. Pasalnya, Fahrori Umar merupakan Wakil Gubernur Jambi dua periode berturut-turut (2011-2016 & 2016-2021). Pertama berpasangan dengan HBA dan periode kedua dengan Zumi Zola. Kini, Fahrori Umar menjabat Gubernur Jambi menggantikan Zumi Zola yang tersangkut kasus korupsi.

“Fahrori juga memiliki basis massa di Tanjung Jabung Barat karena pasangannya Syafrial M.S adalah Bupati Kabupaten Tanjung Jabung Barat dua priode (2010-2015 & 2015-2020). Jadi, kekuatan Fahrori Umar sebagai incumbent tidak bisa dianggap remeh, sebab dirinya punya peluang untuk mengoptimalkan perolehan suaran melalui jalur birokrasi,” ungkap Mukhri.

Menariknya, analisa Pengamat Politik Mukri Soni tersebut sejalan dengan hasil survey Komunika Research Center (KRC) tentang elektabilitas pasangan calon Gubernur Jambi 2020 – 2024 yang dirilis hari ini. Survey KRC menempatkan Cek Endra – Ratu Munawaroh di poisi puncak dengan tingkat elektabilitas sebesar 18%, disusul kedua dan ketiga, yaitu Syarif Fasya – AJB (17%) dan Al-Haris Abdullah Sani (16%). Sementara, pasangan Fahrori Umar – Syafrial M.S berada di posisi buncit dengan keterpilihan sebesar 14%.

Direktur Eksekutif KRC Mukhtar Wijaya menjelaskan, survey dilakukan pada periode 10 – 20 Juni 2020 dengan penarikan sample sepenuhnya dilakukan secara acak menggunakan metode multistage random sampling. Dalam pelaksanaan survey, KRC juga mempertimbangkan beberapa aspek, yaitu pertama proporsi antara jumlah sample dengan pemilih di setiap kabupaten/kota.

Kedua, proporsi sample di daerah urban dan rural berdasarkan karakteristik wilayah menurut Badan Pusat Statistik. Ketiga proporsi sample berjenis kelamin perempuan dan laki-laki. “Jumlah sample sebesar 1.400 yang terdistribusi secara proporsiaonal pada 11 kabupaten/kota di seluruh Provinsi Jambi, dengan margin of eror sebesar +/- 2,21% pada tingkat kepercayaan 95%. Adapun proses wawancara dilakukan secara tatap muka menggunakan kuesioner oleh pewawancara yang telah mengikuti pelatihan oleh tim KRC,” paparnya.

Ditambahkan, selisih angka keterpilihan antara keempat pasangan calon yang cukup tipis menegaskan bahwa persaingan dalam memperebutkan kursi Gubernur/Wakil Gubernur pada Pilkada Jambi 2020 dipastikan akan semakin ketat. “Apalagi bila dilihat dari jumlah responden sebesar 35% yang belum menentukan pilihan, maka keempat pasangan kandidat masih sama-sama punya peluang menangkan pertarungan memperebutkan Kursi Jambi 1,” pungkas Mukhtar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here