Meski Diguncang Trade War, Ekonomi RI Masih Tahan

Labuan Bajo, Info31.id – Kendati sempat diguncang perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China tatapi perekonomian Indonesia masih punya daya tahan yang cukup kuat. Hal itu dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi yang berada di level 5,02% pada kuartal III-2019. Angka ini menurun dibanding kuartal I dan II yang masing-masing sebesar 5,07% dan 5,05%.

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Endy Dwi Tjahjono menilai, kondisi ekonomi global memang belum memberi sinyal perbaikan dan masih memiliki kecenderungan terkoreksi.

“Tadinya sudah mulai timbul optimisme, saat ada potensi kesepakatan dagang Amerika dengan China. Tapi luntur lagi begitu ada Undang-Undang Migrasi, dimana AS mendukung imigran dan demonstran di Hong Kong. Bahkan, trade deal kembali mentah saat gelombang protes soal suku Uighur kian mengemuka,” ujarnya di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, Senin (9/12).

Endy menyebut, persoalan ekonomi global semakin ruwet dengan ulah Presiden Donald Trump yang juga mengancam menaikkan tarif pada Perancis, Argentina, dan Brazil. Akibatnya, perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia mengalami koreksi dari prediksi sebelumnya. “Pertumbuhan ekonomi global kembali menurun dari 3,6% di 2018 menjadi 3,0% pada kuartal III-2019. Angka ini juga meleset dari proyeksi sebelumnya yang sebesar 3,2%,” imbuhnya.

Menurut dia, pada beberapa negara belum ada tanda-tanda mulai terjadi pemulihan ekonomi. Bahkan di negara-negara Eropa semakin turun dan salah satu yang paling terkena dampak adalah Jerman, dimana prospek ekspornya kian suram. Kemudian, ekonomi China sendiri melambat yang tumbuh hanya 0,2% pada 2019. Ekonomi India pun tak kalah parah, merosot di bawah 5,0%.

Seiring dengan itu, bank-bank sentral di sejumlah negara mulai melakukan langkah atisipatif melalui kebijakan moneter yang akomodatif. Bank Sentral Thailand, misalnya, telah dua kali memangkas suku bunga acuan hingga 50 basis poin. Kemudian The Fed sebanyak tiga kali, sebesar 75 bps dan Brazil 150 bps.

“Oleh sebab itu, langkah kebijakan yang dilakukan Bank Indonesia sudah sejalan dengan misi mayoritas bank sentral di dunia. Bahkan kebijakan pelonggaran tidak hanya suku bunga tetapi injeksi likuditas. Dampaknya ada likuiditas yang masuk ke emerging market dan masuk ke yield yang lebih tinggi termasuk ke Indonesia,” tutunya.

Akibat kondisi global tersebut, lanjutnya, membuat volume perdagangan dunia tercatat turun 2,6% sampai 3% jauh melambat dari tahun lalu. Kondisi ini juga masih diikuti penurunan harga komoditas ekspor. Secara total komoditas ekspor di 2018 turun 2,8% dan pada 2019 turun dalam lagi 4%. Komoditas yang naik hanya karet naik 13,6% dan nikel naik 5%.

“Kita melihat ke depan Indeks Harga Komoditas Ekspor bisa membaik berkat CPO, dan 1 Januari pemerintah akan menaikkan B20 ke B30 kalau ini berhasil full biodiesel, maka kemungkinan suplai CPO global turun lebih besar. Karena kita bisa ekspor dalam bentuk biodiesel maka bisa mengurangi impor minyak,” ungkap Endy.

Selain itu, Bank Indonesia memproyeksikan pada kuartal IV – 2019, konsumsi rumah tangga diproyeksikan bisa tumbuh 5,02% ditopang oleh konsumsi Natal dan Tahun Baru. Kuartal terakhir biasanya menjadi momentum pertumbuhan, seiring dengan konsumsi rumah tangga dan banyaknya penyerapan anggaran pemerintah.

“Kita optimistis bisa mencapai 5,02% meskipun kondisi tahun ini cukup berat. Kondis yang berat ini tecermin dari Nilai Tukar Petani (NTP), November 2019 yang hanya tercatat naik 0,05%, selain itu upah buruh juga cenderung tumbuh melambat,” jelas Endi.

Bukan itu saja, tambah dia, bantuan sosial (bansos) juga cenderung menipis dan habis pada kuartal IV/2019, sehingga tidak bisa menjadi bantalan bagi pertumbuhan ekonomi. Meski demikian jumlah middle income ini yang terus naik dan menopang konsumsi dalam negeri.

Masih rendah

Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto menjelaskan, ada kewajaran bila pertumbuhan Indonesia masih mengandalkan konsumsi rumah tangga. Sebab, pengeluaran dari pemerintahan masih rendah, hanya 0,98% yang kemungkinan dipengaruhi oleh pergantian kabinet. “Sehingga diproyeksikan konsumsi rumah tangga akan tumbuh 5,0%-51 persen di kuartal empat ini, dengan growth-nya hanya syukur jika di atas 5,1%,” ujar Ryan.

Dia menjelaskan ada kemungkinan konsumsi rumah tangga stagnan pada kuartal III karena sedikit menunda pembelian. Dia berasumsi, sebagian rumah tangga pada kuartal II/2019 sudah habis-habisan untuk pengeluaran anak sekolah.

“Sektor yang paling terdampak pada kuartal IV-2019 adalah sektor makanan, minuman, perdagangan, dan perhotelan. Selain itu, banyak lembaga pemerintahan yang pada kuartal IV-2019 membelanjakan budget untuk kegiatan pertemuan di beberapa hotel,” rincinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here