Menjadi Cerdas di Era Digital

9

BELITUNG TIMUR, Info31.id – Presiden Republik Indonesia memberikan arahan tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital, dalam webinar, Kamis (16/9/2021). Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung.

Terdapat 4 kerangka digital yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, antara lain Kecakapan Digital, Keamanan Digital, Etika Digital dan Budaya Digital. Keynote Speaker Gubernur Bangka Belitung, Dr. H. Erzaldi Rosman Djohan, S.E., M.M. dan Presiden RI Jokowi. Tema besar webinar “Menjadi Cerdas di Era Digital” oleh para narsum yang mempunyai kompetensi di bidang masing masing serta seorang Key Opinion Leader yang memberikan sharing session.

Pembahasan tentang transformasi di era digital, aktivitas sehari-hari, nilai-nilai dan tata krama, ekonomi, pendidikan, regulasi, politik, dan lain-lain. Transformation to digital life mulai dari business model berubah: disruption di berbagai sektor, digital culture: ada discrepancy antar budaya, digital infrastucture vital sebagai nadi kehidupan, cyber resilience sangat penting: menjadi bagian dari ketahanan bangsa.

Disruption dan perubahan revolusioner di berbagai sektor yaitu dunia akan berubah cara kerja lama terdisrupsi tanpa bisa terelakkan, ada pemain lama tidak bisa mendeteksi ancaman di luar jangkauan pemikiran, ada yang tak berdaya memilih untuk tidak menghadapinya, ada yang bertengkar sendiri di dalam, dan ada yang berinovasi menghadapi tantangan baru, menurut Dr. Ana Mariana, M.Si sebagai Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Merdeka Malang.

Maka dari itu kita harus tau masalah keamanan cyber yang ada di era digital saat ini adalah maraknya kejahatan yang menggunakan ICT, maraknya kejahatan terhadap ICT, minimnya pemahaman terhadap regulasi UU ITE dan keamaan informasi, pontensi ancaman terhadap ketahanan, keamanan dan keadulatan negara (sumberdaya, rahasia negara, konflik sosial, dan lain sebagainya berasal dari dalam dan luar negeri, belum tumbuh budaya ketahanan dan keamanan cyber.