Melawan Ujaran Kebencian di Dunia Maya

6

PAGAR ALAM, Info31.id – Presiden Republik Indonesia memberikan arahan tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital, dalam webinar, Kamis (16/9/2021). Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung.

Terdapat 4 kerangka digital yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, antara lain Kecakapan Digital, Keamanan Digital, Etika Digital dan Budaya Digital. Keynote Speaker Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, S.H; Walikota Pagar Alam, Alpian Maskoni, S.H; dan Presiden RI Jokowi memberikan sambutan dan mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Webinar membahas tentang “Melawan Ujaran Kebencian di Dunia Maya” oleh para narsum yang mempunyai kompetensi di bidang masing-masing serta seorang Key Opinion Leader yang akan memberikan sharing session.

Menurut Frans Padak Demon sebagai Konsultan Media Internasional, cyberbullying atau perundungan dunia maya adalah perundungan dengan teknologi digital baik di media sosial, platform bermain game, dan ponsel.

Ciri-ciri cyberbullying yaitu, mengucilkan orang dari group media sosial, menyebarkan kabar bohong, mengucilkan orang dari grup media sosial, mengolok-olok, menghina, menyakiti hati, dan mengancam, membuat situs atau group chat untuk menebar kebencian terhadap seseorang, dan mengubah foto tidak semestinya.

Dampak dari cyberbullying antara lain, mental dan emosional merasa malu, kesal, marah , bodoh, dan rendah diri, hilang semangat, psikosomatis, seperti sakit perut dan pening, curiga dan tidak percaya kepada orang lain, dan menyendiri, lebih agresif , semangat belajar, dan bekerja turun.

Saat terjadinya cyberbullying yang harus kita lakukan diantaranya, korban harus ditolong agar tidak terus depresi, pelaku harus dihentikan karena jika tidak dia akan makin agresif dan menindas serta menyakiti lebih banyak orang, cyberbullying harus dihentikan agar jangan sampai timbul kesan di masyarakat bahwa membully itu biasa-biasa saja, agar membully tidak jadi budaya.

Wulan Sari, S.Pd., M.Pd.I sebagai Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Kota Pagar Alam menambahkan, untuk menyikapi ujaran kebencian bisa dengan cara instrospeksi diri dan dengarkan, maafkan, abaikan atau jangan direspon, alihkan perhatian, blok, mute, delete, ingatkan dan beri nasehat, dan laporkan.