Masyarakat Digital Harus Bijak Beretika di Internet

9

MUARO JAMBI, Info31.id – Presiden Republik Indonesia memberikan arahan tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital, dalam webinar, Kamis (9/9/2021). Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung.

Terdapat 4 kerangka digital yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, antara lain Kecakapan Digital, Keamanan Digital, Etika Digital dan Budaya Digital. Sebagai Keynote Speaker Direktur Jendral Aplikasi Informatika, Semuel Abrijani Pangerapan, B.Sc dan Presiden RI Jokowi. Tema besar webinar “Bijak Beretika di Internet” oleh para narsum yang mempunyai kompetensi di bidang masing-masing serta seorang Key Opinion Leader yang akan memberikan sharing session.

Pembahasan tentang hal-hal yang harus dihindari agar tidak terjerat UU-ITE yaitu, menghina atau mencemarkan nama baik, melanggar kesusilaan, menyerbarkan kebencian atas kelompok suku, agama, ras, dan antargolongan, menyebarkan berita bohong atau hoaks, hal yang bersifat perjudian, dan menyebabkan kerugian. Pantang dilakukan di sosial media antara lain, memulai konflik, mek, menurut Dr. Meithiana Indrasari, ST., MM sebagai Dosen Fakultas Ekonomi dab Bisnis.

Puspa Ira Dewi Candra Wulan,S.Kom., M.Cs sebagai Dosen Politeknik Bhakti Semesta mengatakan, gunakanlah internet dengan bisa agar dapat memproteksi ancaman siber antara lain, tidak sembarang mengklik link pesan dari pihak yang tidak dikenal, pastikan alamat situs benar, gunakan alamat situs https//, jangan pernah memberikan informasi pribadi ke siapapun, amankan file dengan anti virus rutin update sistem keamanan, back up data secara rutin.

Kelola sosial media kita dengan memfilter pertemanan toxic, grup yang diikuti, konten yang dilihat pornografi dan hoax, informasi yang akan di share dan informasi yang kita serap. Cyber Security selalu ada celah untuk orang melakukan kejahatan siber. Waspada saja kurang, butuh membangun pola pikir terhadap risiko sejak dini.