Masuk ADWI 2021, Desa Ngilngof Maluku Tenggara Punya Pasir Putih Terhalus di ‘Dunia’

97
Menparekraf Sandiaga Uno mengunjungi Desa Wisata Ngilngof Maluku Tenggara. (Foto: info31.id/Pool/Dok. Kemenparekraf)

KEI KECIL, info31.id – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mendorong Desa Wisata Ngilngof di Maluku Tenggara agar bisa lebih populer dan dikenal oleh wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Apalagi ada keunggulan khusus bahwa desa ini merupakan rumah bagi pantai yang konon punya pasir terhalus di dunia.

Menparekraf Sandiga saat visitasi ke Desa Wisata Ngilngof yang masuk dalam 50 besar desa wisata terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021, Kamis (28/10/2021), menyampaikan rasa takjubnya dengan pasir putih halus yang ada di Desa Ngilngof. Namun menurutnya, disayangkan pasir putih terhalus ini belum terlalu terdengar.

“Jadi branding yang kuat tentang pasir putih terhalus ini yang kita ingin dorong. Seperti seluruh dunia tahu Raja Ampat. Nah ini tidak terlalu jauh dari Raja Ampat kota punya sensasi yang luar biasa dan tidak kalah. Terutama kalau misalkan branding pasir terhalus di ‘dunia’ itu pasti orang akan datang,” ujar Sandiaga.

Desa Ngilngof sendiri merupakan salah satu desa yang berada di Kepulauan Kei. Tepatnya di Kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tenggara. Desa Wisata Ngilngof hanya berjarak 15 km atau dapat ditempuh selama kurang dari 20 menit dari Kota Langgur.

Sementara dari Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta) wisatawan perlu transit dahulu di Bandar Udara Internasional Pattimura, Ambon atau Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar sebelum akhirnya tiba di Bandara Karel Sadsuitubun Langgur.

Baca Juga: Buka Festival Musik Rakyat, Ini Harapan Sandiaga untuk Sektor Parekraf di Ambon

Di desa ini, wisatawan juga bisa menikmati ragam keindahan pesona alam lainnya, di antaranya Pulau Ohoiew. Pulau ini dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Ketika air pasang naik, pulau Ohoiew akan terlihat lebih kecil karena air laut menutupi garis pantai.

Namun saat air pasang surut, pulau ini akan terlihat lebih panjang. Keindahan Pulau Ohoiew terdapat pada lidah pasir pantainya yang menjorok ke laut hingga 1 km.

Ada juga Pantai Yanroa. Pantai ini merupakan tempat konservasi mangrove. Keunikan pantai Yanroa adalah ketika pasang surut, air pantai akan menjadi kering dan dangkal sehingga masyarakat menyebutnya Air Meti. Di saat itulah warga Ngilngof akan menangkap ikan dengan cara tradisional dengan berjalan di tengah laut tersebut.

Lalu, ada Danau Ablel, yang merupakan danau terbesar di Kepulauan Kei, hingga ada spot diving yang tak kalah indah.

Lebih lanjut, Sandiaga mendorong masyarakat untuk bisa mengembangkan potensi wisata alam yang ada, agar terciptanya lapangan pekerjaan seluas-luasnya.

“Sport tourism di sini yang belum terdorong adalah olahraga mancing. Padahal minatnya banyak dan kalau kita buat paketnya itu akan sangat terbuka kemungkinannya. Jadi selain olahraga itu, kita juga bisa kembangkan olahraga bola voli pantai, serta permainan yang berbasis beach game. Masih banyak daya tarik potensial yang perlu digali, dikembangkan, dan dipromosikan,” kata Sandiaga.

Selain pesona alamnya, Desa Wisata Ngilngof juga memiliki budaya dan tradisi penduduk yang masih sangat kental, sehingga hal ini menjadi daya tarik sendiri. Seperti tari sariat, tari sawat, tari panah, tari salib, hingga ada ritual pengukuhan secara adat.

Desa Wisata Ngilngof pun juga memiliki event tahunan, yaitu Festival Pesona Meti Kei. Dalam acara tersebut ada pagelaran tarian, musik, festival layang-layang, dan lampion. Lalu ada Tour De Mollucas, yang merupakan kegiatan olahraga berbasis pariwisata.

Tak lengkap rasanya jika desa wisata tidak memiliki produk ekonomi kreatif. Di Desa Wisata Ngilngof sendiri punya makanan khas yaitu Embal Pisang yang terbuat dari pisang masak yang dibalut dengan tempung embal (tepung yang terbuat dari singkong beracun yang telah diproses).

Kasbi, yang merupakan makan khas Maluku terbuat dari singkong yang direbus menggunakan air santan kelapa.

Untuk kriyanya, desa wisata ini punya aksesoris khas yang terbuat dari limbah kerang, seperti lampu dari kerang, cermin, dan figura. Sedangnya fesyennya, desa ini memiliki baju adat beniang, anyaman tas dari limbah sampah, dan sandal.

Sandiaga berharap Desa Wisata Ngilngof dapat menjadi best practice bagi desa-desa wisata lainnya untuk tetap terus berkembang, meningkatkan perekonomian lokal, dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di masa depan.

“Jadikan pencapaian ini sebagai motivasi dan dorongan untuk terus meningkatkan perekonomian daerah khususnya di bidang kepariwisataan dan ekonomi kreatif,” ujar Sandiaga.

Oleh karena itu agar meningkatkan semangat dan kreativitas warga Ngilngof dalam mengembangkan potensi wisata alam di Desa Wisata Ngilngof, Sandiaga memberikan bantuan berupa 30 lampu LED beserta alasnya, 30 lampu sorot pantai, kabel listrik, kawat pengait, dan pipa paralon pelindung lampu.

“Ada beberapa permintaan dari teman-teman Desa Ngilngof, maka kita berikan. Karena Ngilngof kurang lampu jadi kita berikan lampu dengan kabelnya lengkap. Mudah-mudahan bisa bermanfaat,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Maluku Tenggara, Thaher Hanubun, mengucapkan terima kasih atas kunjungan Menparekraf ke Pulau Kei. Sebab, kunjungan ini turut membangkitkan kembali perekonomian di Pulau Kei.

“Kunjungan ini luar biasa dan akan memotivasi masyarakat untuk mengembangkan, karena kami punya dua perikanan dan pariwisata. Di Kampung Ngilngof dan sekitarnya ini hidupnya dari kunjungan wisatawan,” ujar Thaher.

Saat visitasi ke Desa Wisata Ngilngof, Sandiga juga menyaksikan Festival Meti Kei yang sedang berlangsung. Ia juga turut bernostalgia bermain basket bersama Bupati.