Kesiapan Masyarakat Digital Hadapi Persaingan Dunia Kerja

6

PESAWARAN, Info31.id – Mengembangkan model pelatihan serta penempatan ketenagakerjaan yang sesuai jenis keahlian adalah langkah strategis yang harus dipersiapkan menghadapi permasalahan pekerjaan.

“Pandemi Covid-19 membuat relasi antara industri dan sektor ketenagakerjaan yang cair melalui digitalisasi dan komputerisasi terjadi semakin cepat,” ujar Sitti Utami Rezkiawaty Kamil, dalam Webinar Indonesia Makin Cakap Digital – “Masyarakat Digital”, Rabu (22/9/2021).

Webinar diselenggarakan Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika di 77 Kabupaten/Kota, Wilayah Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Hadir dalam acara, Gubernur Provinsi Lampung, Arinal Djunaidi, memberi sambutan serta mendukungan Literasi Digital Kominfo 2021.

Dalam kesempatan yang sama, Febby Andrian Eddy, menjelaskan, masyarakat 5.0 adalah penggunaan internet dan media sosial pada segala bidang kehidupan atau lebih dikenal dengan istilah Internet of Things (IOT).

Medsos adalah media daring yang digunakan satu sama lain, dimana para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berinteraksi, dan berbagi. “Pengguna medsos bisa menciptakan isi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual tanpa dibatasi oleh ruang serta waktu,” katanya.

Sementara itu, Aliyandi A. Lumbu membahas demokrasi melalui internet atau cyber democracy, sebuah konsep yang melihat internet sebagai teknologi dengan memiliki pengaruh sosial transformatif dan memperluas partisipasi demokrasi.

Menurut Hartley dalam buku yang dirilis (2002), cyber democracy adalah sebuah konsep optimis yang muncul sejak awal-awal kehadiran internet. asal mula konsep ini berkaitan dengan konsep awal dari electronic democracy.

Internet Ethics adalah seperangkat prinsip moral yang mengatur individu atau kelompok tentang perilaku apa yang dapat diterima saat menggunakan Internet dan media sosial.

Dengan demikian seseorang tidak dapat seenaknya sendiri ketika berinteraksi dengan orang lain menggunakan media internet. Mereka dibatasi oleh prinsip moral yang berlaku dalam kelompok tersebut, dalam hal ini adalah pengguna internet dan media sosial.

Wiwik Damayanti Mesy menjelaskan, dalam konteks budaya digital, perubahan perilaku masyarakat yang banyak menggunakan teknologi untuk memenuhi kebutuhan dan aktivitas perlu dibangun kesadaran agar talenta digital tidak hanya menjadi pengguna yang pasif, melainkan juga pengguna aktif.

Diakhiri penyampaian Key Opinion Leader oleh Febry Dyta, Konten Kreator, masyarakat yang struktur sosialnya adalah jaringan dengan mikro elektronik berbasis informasi digital dan teknologi komunikasi.

“Adanya teknologi digital sebetulnya bertujuan untuk efisiensi dan produktifitas manusia biasanya teknologi digital di temukan sehari hari adalah smartphone dan komputer,” pungkasnya.