Kabar Baik, Pabrik AC Inverter Relokasi dari Malaysia Mulai Berproduksi di Indonesia

22
Peresmian produksi perdana produk AC inverter oleh PT. Panasonic Manufacturing Indonesia (PT. PMI). (Foto: info31.id/Pool/Dok. Kemenperin)

JAKARTA, info31.id – Kinerja gemilang semakin terlihat pada industri elektronik di Tanah Air. Hal tersebut didukung upaya pemerintah yang serius mengelola dan memperbaiki iklim usaha bagi pelaku industri, melalui berbagai kebijakan probisnis yang telah dirilis. Salah satu hasilnya, yakni relokasi pabrik AC inverter dari Malaysia ke Indonesia.

“Hari ini kami meresmikan produksi perdana produk AC inverter oleh PT. Panasonic Manufacturing Indonesia (PT. PMI). Pabrik tersebut merupakan relokasi dari pabrik AC inverter dari Malaysia,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya secara virtual pada acara Produksi Perdana Produk AC inverter tersebut, Selasa (16/11/2021).

Ia menyampaikan, relokasi pabrik tersebut merupakan salah satu langkah yang strategis dalam pencapaian program substitusi impor 35% dan pendalaman struktur industri, khususnya untuk produk AC. Tingginya nilai impor AC juga menjadi perhatian Kemenperin.

Sejalan dengan program substitusi impor 35% dan Program Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN), Kemenperin akan berupaya dan mendorong Kementerian/Lembaga terkait serta para stakeholder agar pangsa pasar produk AC dapat didominasi hasil produksi dalam negeri.

“Kami juga meminta agar para produsen AC lainnya menangkap peluang ini untuk dapat berproduksi di Indonesia,” jelas Menperin.

Agus menambahkan, fasilitas produksi AC yang dimiliki oleh PT PMI merupakan salah satu upaya pendalaman struktur industri elektronik. Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produk AC yang mencapai 40% menunjukkan bahwa sebagian komponen telah diproduksi oleh PT. PMI di dalam negeri.

“Saya melihat PT PMI dapat meningkatkan investasi, terutama untuk sektor komponen AC yang belum diproduksi di dalam negeri, salah satunya produk compressor,” terangnya.

Menperin menyebut, ini merupakan waktu bagi pemerintah untuk menetapkan threshold TKDN produk elektronika sebagai syarat edar produk.

“Hal ini perlu dikaji karena dapat memberikan dukungan dan juga keyakinan bagi para calon investor dan industri yang akan merelokasi pabrik ke Indonesia, agar produknya dapat diserap oleh pasar dalam negeri,” paparnya.

Baca Juga: Indonesia Siap Jadi Basis Produksi dan Hub Ekspor Sepeda Motor Vespa

Menperin juga memberikan apresiasi kepada PT. PMI atas dukungannya terhadap upaya pendalaman struktur industri elektronika dengan terus berinovasi dan menambah lini produk yang mampu mengisi pasar lokal maupun internasional.

“Partisipasi dan kontribusi bukan hanya dilihat dari berapa besar investasi tapi dilihat dari pembukaan pasar ekspor yang dihasilkan. Selain itu, dari pendalaman struktur yang juga melibatkan Industri Kecil Menengah (IKM). Juga dapat dilihat dari relokasi seperti yang kita saksikan hari ini, yaitu relokasi AC inverter dari Malaysia,” papar Menperin.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Taufiek Bawazier menjelaskan, pasar produk AC di Indonesia mencapai sekitar 1,8 Juta set per tahun. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat.

“Namun, saat ini suplai dari produsen dalam negeri masih sekitar 20%. Oleh karena itu, perbedaan antara supply dan demand ini dapat dijadikan peluang oleh produsen-produsen AC untuk dapat melakukan proses produksi di Indonesia,” ujarnya.

Data menunjukkan, impor produk AC tergolong besar, yakni USD0,33 Miliar pada tahun 2020, turun 19% dibandingkan impor tahun 2019 sebesar USD0,41 Miliar. Namun, data impor pada kuartal III – 2021 menunjukkan bahwa impor produk AC kembali mengalami kenaikan sebesar 36,8% dari USD0,29 Miliar periode yang sama tahun sebelumnya menjadi USD0,398 Miliar.

“Di sisi lain, ekspor produk AC juga mengalami kenaikan sebesar 136,5% dari USD0,55 Miliar pada kuartal III – 2020 menjadi USD0,13 Miliar pada kuartal III – 2021. Hal ini menunjukkan adanya potensi pasar AC di dalam negeri yang semakin meningkat serta peningkatan produksi dan daya saing industri AC untuk pangsa ekspor,” jelasnya.

Presiden Direktur PT PMI, Tomonobu Otsu menyampaikan, Panasonic ingin melaksanakan misinya berkontribusi pada Indonesia, dan secara aktif akan melakukan perluasan investasi serta meningkatkan bisnis di Indonesia melalui produk-produk yang mendukung kehidupan masyarakat yang sejahtera.

“PT PMI mengucapkan terima kasih kepada pemerintah khususnya Kementerian Perindustrian yang telah memberikan dukungan dan arahan yang jelas mengenai rencana tahapan pendalaman struktur industri, sehingga proses relokasi pabrik Panasonic dari luar Indonesia dapat berjalan sesuai target.” paparnya.

Baca Juga: Ini Strategi Kemenperin Bikin Industri Lokal Naik Kelas

Bisnis Unit AC PT PMI yang berdiri sejak tahun 1979 ini memproduksi AC inverter untuk kebutuhan pasar domestik dan AC non-inverter untuk pasar lokal dan ekspor ke Nigeria.

Wakil Ketua DPR RI Rachmat Gobel memaparkan, keberhasilan memproduksi AC dengan model baru, yang merupakan relokasi dari Malaysia, tidak lepas dari bimbingan Kemenperin yang selalu memperhatikan, memberikan dukungan, serta mendengar kesulitan para pabrikan. “Hal penting yang harus dicatat, para pelaku industri juga terdorong untuk menghasilkan nilai tambah di Indonesia karena modal pasar kita yang besar,” ujarnya.

Rachmat menambahkan, P3DN juga harus didorong, karena konsep pemerintah untuk meningkatkan komponen di dalam negeri dapat memberikan lapangan kerja bagi masyarakat, juga akan ada investasi yang besar. Hal tersebut akan semakin memajukan sektor industri.

Pengembangan industri semikonduktor

Menperin menyampaikan, peta jalan Making Indonesia 4.0 yang diluncurkan pada 2018 menempatkan industri elektronik sebagai salah satu prioritas penerapan Industri 4.0.

Strategi yang dijalankan Kemenperin dalam mengembangakan sektor ini antara lain menarik pemain global terkemuka, meningkatkan kemampuan dalam memproduksi komponen elektronik bernilai tambah, mengasah kemampuan tenaga kerja dalam negeri melalui pelatihan intensif, serta mendukung pelaku industri unggulan untuk melahirkan inovasi lanjutan dan mempercepat transfer teknologi.

“Industri elektronika seharusnya menjadi core Industri 4.0. Oleh sebab itu saya mengajak PT. PMI sebagai leading sector industri elektronik di dunia, untuk bersama memikirkan dan mendorong pengembangan industri semikonduktor,” ujar Menperin.

Menurutnya, upaya pengembangan industri semikonduktor harus segera dimulai, mengingat saat ini dunia sedang menghadapi kelangkaan komoditas ini, sehingga menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengisi pasar tersebut.

Sebelumnya, Menperin juga telah melakukan pertemuan dengan beberapa industri di Jerman untuk mengeksplorasi peluang investasi industri semikonduktor di Tanah Air.