Hati-hati Memposting Konten, Salah-salah Dikurung 6 Tahun

9

DAIRI, Info31.id – Aspek kehidupan tidak terlepas dari pengguna dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi yang telah menggeser pola pikir, sikap, dan tindakan masyarakat dalam akses dan distribusikan informasi. Untuk generasi digital cenderung ingin memperoleh kebebasan. Mereka tidak suka diatur dan dikekang.

“Kebebasan berekspresi masih punya peran di dunia digital melalui berbagai platform media sosial,” ujar Aprido Bernando, Peneliti Literasi Sains, saat menjadi pembicara dalam Webinar Indonesia Makin Cakap Digital – “Kebebasan Berekspresi di Dunia Digital”, Selasa (21/9/2021).

Webinar diselenggarakan Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika di 77 Kabupaten/Kota, Wilayah Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Hadir dalam acara, Presiden RI Joko Widodo dan Gubernur Provinsi Sumatera Utara, Edy Rahmayadi, memberikan sambutan dan mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Mereka, lanjutnya, ingin megang control dan internet menawarkan kebebasan berekspresi. Media sosial memang memberikan kebebasan bagi para penggunanya, tetapi bukan berarti bebas pula dalam beretika.

“Jaga etika, sopan santun, dan selalu bersikap respect kepada teman atau orang-orang yang terkoneksi di akun media sosial. Hindari penggunaan kata-kata kasar atau yang mengandung unsur SARA. Hormatilah orang lain sebagaimana kita ingin dihormati,” sarannya.

Menurut Aprido Bernando, meski pengguna internet memiliki kebebasan berekspresi perlu diingat untuk mengunggah atau memposting dengan bijak. Untuk dapat bersikap bijak, pengguna selayaknya tidak oversharing atau membagikan hal pribadi secara berlebihan.

Jejak digital susah dihapus. Karena itu, ikuti akun bermanfaat untuk menghindari hal-hal merugikan. Kemudian, lakukan detoks media sosail secara berkala guna menjaga kesehatan mental. Jadilah bijak dalam bersosial media.

“Sebab, bila kita salah memposting atau mengunduh konten menurut undang-undang ITE pembuat atau penyebar hoax bisa terkena hukuman, maksimal 6 tahun penjara atau denda Rp1 miliar,” pungkasnya.