Haru Koesmahargyo Ditunjuk Sebagai Dirut BTN

Dalam RUPST disetujui Haru Koesmahargyo sebagai Direktur Utama Bank BTN. Pemegang saham juga mengangkat Nofry Rony Poetra sebagai Direktur Finance, Planning, and Treasury dan Eko Waluyo selaku Direktur Compliance and Legal.

JAKARTA, Info31.id – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., akan terus melakukan efesiensi dengan menekan cost of fund untuk membidik laba bersih naik ke kisaran Rp2,5 – Rp2,8 triliun di tahun 2021.

“Efesien terus kita lakukan untuk mencapai target laba bersih tersebut,” Wakil Dirut BTN Nixon L Napitupulu usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan secara virtual, Rabu (10/3).

Dia menambahkan, optimistis target bisnis yang ditetapkan untuk tahun 2021 akan tercapai, didukung Jajaran Direksi baru yang ditetapkan lewat RUPST.

Dalam RUPST disetujui Haru Koesmahargyo sebagai Direktur Utama Bank BTN. Pemegang saham juga mengangkat Nofry Rony Poetra sebagai Direktur Finance, Planning, and Treasury dan Eko Waluyo selaku Direktur Compliance and Legal.

Corporate Secretary Bank BTN Ari Kurniaman mengatakan, pihaknya  tetap optimistis mampu meraih posisi sebagai The Best Mortgage Bank in Southeast Asia in 2025 didukung infrastruktur perumahan yang kuat dan inovasi yang terus berjalan.

“Kami terus berupaya agar dapat memberikan kesempatan bagi masyarakat Indonesia memiliki hunian yang terjangkau dengan mudah,” ujarnya.

Apalagi, dambung Ari, sektor perumahan memiliki multiplier effect terhadap 174 sektor lainnya, sehingga dapat menjadi lokomotif pendorong perbaikan ekonomi nasional.

Beberapa target kinerja keuangan yang juga ditetapkan Bank BTN di tahun kerbau logam ini yakni kredit dan pembiayaan dibidik naik sebesar 7%-9%. Dana Pihak Ketiga pun ditargetkan berada dalam pertumbuhan yang sejajar dengan kredit atau dikisaran 7%-9%.

RUPST juga memutuskan mengangkat mantan Dirut PT Taspen (Persero) Iqbal Latanro sebagai Wakil Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen.

Menurut Ari, perseroan menyambut positif susunan pengurus yang baru tersebut. Bisnis BTN, lanjutnya, akan tetap berjalan normal dengan tetap mendukung program perumahan nasional sebagai core business Bank BTN.

“Kami optimistis jajaran baru ini juga akan solid membawa Bank BTN mendukung program pemerintah yakni Sejuta Rumah dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” tuturnya.

Pangkas Cicilan

Mengenai pemangkasan cicilan kredit hingga 50%, Wakil Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan, penyebab penurunan cicilan ini akibat adanya kebijakan pemerintah memberi subsidi bunga KPR program PEN tertuang dalam PMK Nomor 138/PMK.05/2020 tentang Tata Cara Pemberian Subsidi Bunga/Subsidi Margin Dalam Rangka Mendukung Pelaksanan PEN.

Dalam aturan tersebut, insentif bunga KPR hanya diberikan kepada debitur untuk rumah tipe 70 ke bawah. Syarat lainnya, yakni nasabah memiliki nomor pokok wajib pajak, memiliki plafon kredit maksimal Rp 10 miliar, memiliki baki debet kredit hingga 29 Februari 2020, dan mengantongi status kredit lancar per 29 Februari 2020.

“Pemerintah sudah menyetorkan dana sebesar Rp2,1 triliun kepada BTN untuk keperluan talangan bunga cicilan tersebut. Bagi masyarakat yang berhak mendapat insentif dipersilahkan mendatangi kantor cabang BTN,” terang Nixon.

Faktor lain yang menyebabkan penurunan cicilan tersebut, lanjut Nixon, adalah kebijakan penurunan suku bunga kredit. Tujuan penurunan suku bunga ini adalah untuk mendorong pertumbuhan kredit di tengah pandemi Virus Corona.

“Jadi, memang kita di bulan sebelumnya melakukan suku bunga tertentu, dan suku bunga sekarang juga kita turunkan. Kompakan sama bank BUMN lainnya turunkan bunga untuk mendorong pertumbuhan kredit. Dampaknya seberapa besar, saya belum bisa jawab sekarang,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here