Genjot Kredit Properti, BI Longgarkan LTV Jadi 5%

Jakarta, Info31.id – Dalam rangka menggenjot jumlah permintaan kredit di sektor properti, Bank Indonesia (BI) memberi pelonggaran dalam kebijakan makroprudensial. Kali ini BI melonggarkan rasio loan to value (LTV) sebesar 5% untuk meningkatkan kredit pemilikan rumah (KPR). Serta pelonggaran sebesar 5%-10% untuk uang muka pembiayaan kredit bermotor.

Tambahan pelonggaran juga akan diberikan sebesar 5% jika pembiayaan diberikan dengan memperhatikan aspek lingkungan. Langkah ini dilakukan bank sentral guna mendongkrak pertumbuhan kredit konsumsi. Pelonggaran ini akan mulai berlaku 2 Desember 2019 mendatang.

Maklum, awal semester 2-2019 pertumbuhan kredit konsumsi memang terhitung anjlok. Pada Juli 2019, kredit properti tumbuh melambat sebesar 12,3% (yoy) dibandingkan Juni 2019 sebesar 12,8% (yoy). Pertumbuhan KKB malah merosot lebih dalam, dari 5,3% (yoy) pada Juni 2019 menjadi 3,5% (yoy) pada Juli 2019.

Bank sentral tidak menetapkan target pertumbuhan KPR dengan kebijakan tersebut. Meskipun begitu, dengan adanya relaksasi ini, BI berharap pertumbuhan kredit berada dikisaran 10%-12%. “Dengan suku bunga yang rendah dan juga pelonggaran dalam LTV, bisa mendorong pertumbuhan KPR di segmen-segmen tertentu. Sehingga, permintaan KPR lebih tinggi, meskipun kondisi pendapatan masyarakat saat ini relatif masih stagnan,” harap Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Juda Agung, Jum’at (20/9).

Perbankan Antusias

Sejumlah bankir menyambut baik langkah bank sentral ini. Consumer Loan Group Head PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Ignatius Susatyo Wijoyo bilang hal ini memang dibutuhkan di tengah merosotnya pertumbuhan bisnis konsumer perbankan.

“Ini langkah yang baik, karena di Bank Mandiri semester 1-2019 KPR tumbuh melandai, walaupun mulai Juli, Agustus kembali bergairah. Namun kalau dilihat pertumbuhan tahunan (yoy) masih kecil sekitar 4%-5%. Sedangkan KKB cukup baik karena sudah melalui anak usaha kami,” kata Igantius.

Dia mengaku ikut dilibatkan dalam keputusan bank sentral tersebut. Dimana, fokus dari pelonggaran tersebut sejatinya terkait memasukkan aspek lingkungan. Meski demikian, dampak terkait tambahan pelonggaran LTV/FTV serta keringanan uang muka pembiayaan berwawasan lingkungan tersebut tak akan serta merta dirasakan perbankan.

“Belum ada standarnya, misalnya untuk KPR, bagaimana kredit yang berwawasan lingkungan. Sehingga pasti akan membutuhkan regulasi turunan. Sedangkan untuk KKB memang sudah ada Perpres soal kendaraan listrik, namun industrinya sendiri belum siap betul karena kendaraan listrik itu kan butuh station charging. Jadi mungkin ini baru akan berdampak pada pertumbuhan kredit pada 2021 atau 2022,” jelasnya.

Per semester 1-2019 bank berlogo pita emas ini sendiri telah membentuk portofolio KPR senilai Rp42,7 triliun dengan pertumbuhan 4,7% (yoy), dan portofolio KKB senilai Rp33,4 triliun dengan pertumbuhan 6,6% (yoy).

Hal senada dikatakan Direktur Bisnis Konsumer PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Budi Satria. Menurutnya perlu diperjelas soal kriteria KPR berwawasan lingkungan. Meski demikian ia turut mendukung kebijakan BI tersebut. Sebab saat ini industri memang butuh insentif tambahan.

“Kebijakan makroprudensial BI ini tentu akan menggairahkan bisnis properti di Indonesia yang saat ini butuh insentif tambahan. Namun, terkait kredit berwawasan lingkungan mesti ada kejelasan soal lembaga mana saja yang bsai menyatakan sebuah proyek perumahan memenuhi standar tersebut,” katanya.

Meskipun saat ini, perseroan kata Budi, telah berupaya mendorong pengembang rekanan perseroan untuk memperhatikan aspek lingkungan. Ini jadi salah satu nilai tambah yang bisa didapatkan calon debitur.

Sepanjang semester 1-2019 bank yang memang punya bisnis inti di segmen kredit perumahan ini telah menyalurkan KPR senilai Rp 226,29 triliun, tumbuh 18,41% (yoy) dibandingkan periode serupa tahun lalu.

Sementara itu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk justru telah bersiap menyambut KKB berbasis lingkungan dengan menyediakan dana Rp 150 miliar untuk membiayai kendaraan listrik. “Saat ini belum ada program yang spesifik mensyaratkan ketentuan linngkungan. Namun kami merupakan bank pertama yang mendukung pembiayaan mobil listrik dengan bunga yang lebih rendah,” kata Direktur Bisnis Konsumer BRI Handayani.

Sepanjang semester 1-2019 sendiri, perseroan menyalurkan KKB senilai Rp4,1 triliun, tumbuh 35% (yoy) dibandingkan semester I 2018 sebesar Rp3 triliun. Meski meraih pertumbuhan tinggi, portofolio KKB perseroan masih mini, cuma sebesar 3% dari total kredit konsumer BRI senilai Rp135,1 triliun pada Juni 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here