Era Digital Memaksa Sinergi antar Broker

Sudah menjadi rahasia umum bila selama ini persaingan bisnis antar perusahaan property agent (broker/pialang) terbilang sangat ketat, bahkan cenderung tidak sehat. Tidak jarang terjadi saling bajak sumber daya marketing (tenaga pemasar/marketer) antar principal broker. Kualitas manajemen dan marketer menjadi kekuatan sekaligus penentu kemenangan dalam persaingan tersebut.

Belakangan, fenomena tersebut mulai sirna seiring pesatnya perkembangan information technology (IT) berbasis digital yang mampu mendorong kreatifitas dan inovasi di bidang pemasaran. Salah satunya, pemasaran berbagai produk dan jasa dengan memanfaatkan internet atau market place yang lebih cepat diserap oleh masyarakat melalui gadget pintar.

Kemajuan IT tersebut tentu memaksa marketing agent pada institusi broker untuk saling bersinergi. Bila tidak, maka akan tertinggal bahkan tersingkir dengan sendirinya. Bahkan, lantaran itu tahun-tahun ini menjadi periode cukup gemilang bagi pelaku industri pialang properti. Pasalnya, kecenderung harga secondary yang terus turun ditambah bermunculannya produk primer baru seiring pertumbuhan infrastruktur menjanjikan pasar transaksi kian bertumbuh.

Namun, apakah potensi ini akan terserap dengan baik bila ditantang dengan kecenderungan internet of thing yang mulai mewabah menjadi kanal penjualan properti? Redaksi Indonesia Housing berkesempatan melakukan sesi wawancara dengan Associate Executive Director Century 21, Daniel Handojo. Berikut petikan wawancanya:

Perkembangan market place penjualan properti berbasis online kian marak bagaimana pendapat Anda. Apakah nantinya akan menjadi pesaing bagi jasa broker properti?

Perlu dimengerti dalam perkembangannya jasa market place online tetap butuh broker. Platform online tidak menggantikan peran broker karena properti merupakan produk personal, nature bisnisnya berbeda. Ketika orang menjual dan membeli rumah mereka memiliki banyak pertimbangan berkaitan dengan harga, selera, dan lainnya yang sangat selektif. Berbeda dengan produk e-commerce lain yang tinggal klik pay.
Namun demikian, tren ini sebenarnya menunjukkan bahwa keberadaan market place online bukan menggantikan tapi melengkapi atau mengkomplementari broker. Dengan adanya mereka menjadi satu potensi untuk menjalin kerjasama dalam menghimpun dan menyebarkan informasi bagi broker lebih cepat.
Sebaliknya, bagi market place fungsi broker menjadi cara merepackage produk yang ada sehingga produk bisa dikomunikasikan sesuai dengan kebutuhan konsumen. Keduanya bukan bisnis yang saling bersaing namun saling melengkapi. Sehingga fenomena ini menunjukan sudah semestinya seorang broker cakap dalam menguasi dan memanfaatkan internet.

Era digitalisasi mengisyaratkan persaingan pasar yang lebih terbuka. Menurut Anda seperti apa broker harus menyikapinya?
Siapa yang menguasai informasi paling banyak itu yang menang, saat ini peta persaingan lebih kepada siapa yang menguasai informasi. Namun, keberadaan internet merupakan pintu masuk untuk para broker saling terkoneksi. Sehingga tidak ada persaingan secara indirect karena bisa menjual produk bersama. Broker itu sifatnya localize, broker yang menjual daerah Bogor hanya menguasai daerah Bogor. Begitu ditiap daerah. Sehingga dengan adanya internet sebenarnya membuka peluang untuk berkolaborasi antara satu broker dengan broker lainnya (Co-Broking).

Untuk korporasi sendiri seperti apa strategi yang dicanangkan?
Secara umum bisnis kami tahun ini tumbuh 12%. Penjualan terbanyak dengan presentasi 60% untuk produk second sedangkan sisanya untuk produk primer yang cukup banyak jumlahnya tahun ini. Untuk meningkatkan itu, kami tengah meningkatkan konektivitas secara real-time. Jumlah agen kami saat ini mencapai 7000 orang. Dengan jumlah yang besar, informasi yang terhimpun juga banyak. Untuk itu kami menciptakan media yang mampu terhubung secara real-time. Kami menyadari generasi broker kedepan kebanyakan anak milenial, sehingga cara kerja sudah harus berubah. Di Century 21 kami menjamin untuk memberikan training serta membangun kesempatan (opportunity).

Belakangan, kehadiran internet memberikan fleksibilitas bagi masyarakat bahwa profesi broker bisa dijadikan sebagai pekerjaan sampingan. Menurut Anda, fenomena apa yang tengah terjadi pada dunia broker properti saat ini?
Profesi broker saat ini memang tengah naik daun. Jadi broker saat ini banyak memberikan keuntungan karena fleksibilitas yang tinggi. Dengan kemudahan akses informasi sekarang memberikan kemudahan mencoba profesi broker bagi masyarakat. Fenomenanya saat ini, banyak orang yang mencoba partisipasi kemudian merasakan manfaat hingga akhirnya fokus menjalani karir menjadi broker profesional.

Bagaimana pendapat Anda terkait adanya perang harga antar broker?
Broker sesuai pelayanan standar pekerjaannya banyak mulai dari menganalisa, marketing, cek perizinan signing agb, pekerjaannya banyak. Logisnya, bila banting harga (fee) tentunya ada yang dikorbankan yaitu standar service yang sebagaimana mestinya. Sehingga bila fee dipangkas sebenarnya yang rugi konsumen. Padahal dibanding negara lainya, fee broker Indonesia tergolong yang terendah. Karena kalau diluar fee broker diberikan oleh dua sisi, yakni penjual dan pembeli. Kalau disini kan hanya satu sisi. Namun saat ini, broker Indonesia cukup beruntung karena pemerintah mulai memproteksi profesi broker dengan sertifikasi.

Jika demikian anda setuju bila sertifikasi menjadi salah satu cara melindungi broker dari persaingan yang tidak sehat?
Kami sangat mendukung sertifikasi. Dengan sertifikasi menjamin ketenangan para konsumen. Kalau ga ada standarisasi yang jelas, bagaimana SOP (standard operating procedure) melayani konsumennya pun tidak akan jelas. Dengan sertifikasi itu artinya ada kesiapan menjamin kualitas. Sehingga standard service yang diterima akan sama. (Nurul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here