Dugaan Penyimpangan Dana, 4 Tersangka ACT Ditahan

52
Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Ahmad Ramadhan. (Foto:info31.id/pool/dok.Div Humas Polri).

JAKARTA,info31.id – Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menahan empat petinggi yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dalam kasus dugaan penyimpangan dana donasi.

Empat tersangka tersebut yaitu Eks Presiden ACT Ahyudin dan Presiden ACT Ibnu Khajar, Ketua Dewan Pembina ACT Novardi Imam Akbari, dan Senior Vice President Operational Global Islamic Philantrophy, Hariyana Hermain.

Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Whisnu Hermawan mengungkapkan, keempatnya ditahan selama 20 hari ke depan di Rutan Bareskrim Polri. Keputusan penahanan itu didapat setelah pihaknya melakukan gelar perkara.

Baca Juga: Polri : Interpol Telah Terbitkan Yellow Notice Pencarian Putra Ridwan Kamil

“Penyidik memutuskan untuk melakukan proses penahanan terhadap empat tersangka tersebut,” kata Whisnu kepada wartawan di Bareskrim Polri, Jumat, (29/7/2022).

Lebih lanjut Whisnu mengungkapkan, penahanan itu dilakukan karena dikhawatirkan keempat tersangka menghilangkan barang bukti.

“Minggu lalu kami melaksanakan geledah di kantornya ACT ada beberapa dokumen yang sudah dipindahkan dari kantor tersebut sehingga kekhawatiran penyidik para tersangka tersebut akan menghilangkan barang bukti (BB),” tegasnya.

Sementara itu, Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Pol Ahmad Ramadhan mengatakan, Bareskrim Polri mengungkap sejak tahun 2005 sampai dengan 2020 Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) telah menerima donasi senilai Rp2 triliun.

Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp450 miliar dipotong untuk operasional yayasan.

“Sehingga total donasi yang masuk ke yayasan ACT dari tahun 2005 sampai tahun 2020 sekitar Rp2 triliun. Dan dari Rp 2 triliun ini donasi yang dipotong senilai Rp450 miliar atau sekitar 25 persen dari seluruh total yang dikumpulkan,” jelas Ramadhan.

“Dengan alasan operasional, di mana sumber anggaran operasional didapat dari pemotongan yang dilakukan oleh pengurus yayasan,” imbuhnya.

Lebih lanjut Ramadhan menerangkan, yayasan ACT sejak 2015 hingga 2019 melakukan pemotongan dana donasi sebesar 20 sampai 30 persen. Sedangkan sejak 2020 hingga sekarang dipotong sebesar 30 persen.

“Pada tahun 2015 sampai 2019 dasar yang dipakai oleh yayasan untuk memotong adalah surat keputusan dari pengawas dan pembina ACT. Kemudian pada tahun 2020 sampai sekarang berdasarkan opini komite dewan syariah Yayasan ACT,” tuturnya.