Bye Bye Corona, Aesler Melantai di Bursa Efek

Jakarta,info31.id–Tetap agresif menjalankan usaha di tengah situasi sulit akibat pandemi corona virus (Covid-19) seperti sekarang ini dibutuhan nyali berlapis dan kecermatan dalam mengambil keputusan.

Bila hitung-hitungan bisnisnya meleset sedikit saja maka sudah bisa dipastikan keberlangsungan perusahaan terancam berhenti dan akhirnya gulung tikar.

Keberanian itu ditunjukkan oleh PT Aesler Grup Internasional Tbk (“Aesler”), perusahaan bergerak di bidang arsitektur yang secara resmi mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan kode saham “RONY”, pada hari ini, Kamis (9/4/2020).

Langkah ini seakan mengajak dunia usaha tanah air untuk tidak larut dalam keterpurukan ekonomi akibat wabah Covid-19. Presiden Direktur PT Aesler Group International Tbk Jang Rony Yuwono mengatakan, aksi korporasi Aesler dengan melantai di bursa hari ini mendapat respon cukup baik dari masyarakat.

Terbukti, antusiasme investor saat pembelian saham pada perdagangan hari pertama mengalami kenaikan sebesar 35%, bahkan mencapai batas auto reject yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia.

“Kami mengucapkan terima kasih dan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat,” ujarnya, usai pencatatan saham di BEI.

Jang Rony memotivasi dunia usaha agar tetap optimis menjalani bisnis meski berada dalam kondisi sulit seperti saat ini.

“Orang bijak bilang, badai pasti berlalu. Karena itu, masyarakat harus tetap optimis dan kita harus berani mengucapkan bye bye (selamat tinggal) pada Covid-19. Kini saatnya kembali menjalankan bisnis secara agresif guna menyongsong kebangkitan pasar,” imbuhnya.

Aesler, lanjut dia, telah membuktikan selama sepuluh tahun mampu menggarap proyek-proyek skala nasional maupun internasional serta menjadi salah satu perusahaan arsitek dan jasa-jasa building solution nomor satu di Indonesia.

Hal ini tidak luput dari sebuah tekad dan kerja keras dari tim Aesler yang sangat bertalenta, berpengalaman serta berdedikasi tinggi.

“Aesler merupakan wujud nyata dari capaian kesuksesan dengan memberdayakan dan mengembangkan human capital yang dimiliki Indonesia. Ini sesuai dengan arahan Presiden kita, Bapak Joko Widodo bahwa masa depan Indonesia adalah memperkaya bangsa dengan sumber daya manusia unggul (human capital),” ucap dia bangga.

Jang Rony menjelaskan, aksi korporasi yang dilakukan tersebut merupakan langkah terakhir dari proses Penawaran Umum Saham Perdana (IPO/Initial Public Offering) yang telah dipersiapkan Aesler sejak beberapa bulan terakhir.

Melalui IPO ini Aesler menawarkan saham baru kepada publik sebanyak 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta) lembar saham atau setara dengan 20% jumlah modal yang ditempatkan dan disetor.

Saham tersebut dikategorikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) sebagai efek syariah. Dengan begitu, Aesler berhasil menghimpun dana sebesar Rp25 miliar dimana sekitar 55%-nya akan dialokasikan bagi pembelian alat seperti komputer guna kepentingan real-time rendering dan mesin fit-out, sedangkan 45% sisanya untuk modal kerja.

“Dengan penambahan penggunaan teknologi kami berharap bisa bekerja lebih cepat dan efisien sehingga mampu menggandakan pendapatan hingga lima kali lebih besar dibandingkan capaian pada periode sebelumnya”, cetus Jang Rony.

Aesler merupakan perusahaan arsitektur pertama yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia. Setelah IPO ini, kepemilikan PT Nakula Investama Indonesia pada Aesler Grup Internasional akan menyusut dari 55% menjadi 44%.S Sementaraitu, kepemilikan Jang Rony berkurang dari 45% menjadi 36%.

“Melantainya Aesler di BEI merupakan key milestone dalam perjalanan bisnis jasa arsitektur yang dirintis sejak 2010 silam. Sebab, dengan menjadi perusahaan publik, Aesler dalam menjalankan bisnisnya akan melangkah sebagai entitas usaha yang accountable, transparan dan bertanggungjawab pada investor, masyarakat serta seluruh stakeholders,” paparnya.

Diproyeksikan, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya pendapatan Aesler hingga akhir 2020 akan bertumbuh sebesar 67,40% dengan laba bersih sebesar 38,26%. Hal ini ditopang oleh beberapa kontrak baru yang diperoleh perseroan. Selain itu, akan ada tambahan pendapatan dari fit out yang mulai ditekuni pasca IPO.

“Kami melihat, hingga saat ini permintaan jasa manajemen konstruksi dan kebutuhan penyediaan blueprint dari sektor high rise building di Indonesia terbilang masih cukup besar. Hal ini seiring dengan kian tingginya tingkat kepadatan penduduk serta keterbatasan ketersediaan lahan di kota-kota besar,” pungkas Jang Rony penuh optimis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here