Budaya Nusantara Semakin Tergerus Tren Teknologi Digital

8

GAYO LUES, Info31.id – Selain mencari informasi, berbagi dan berkomunikasi, teknologi digital juga dapat digunakan sebagai media peningkatan pengetahuan budaya Indonesia. Saat ini waisan budaya sudah mulai terkikis dengan tren lain yang lebih menarik di dunia maya.

Karena itu, Syamsul Bahri, Pimpinan Sanggar Rempelis Gayo memperkenalkan warisan budaya Tari Saman, saat menjadi pembicara dalam Webinar Indonesia Makin Cakap Digital – “Pentingnya Intenet untuk Pengenalan Budaya”, Rabu (22/9/2021).

Webinar diselenggarakan Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika di 77 Kabupaten/Kota, Wilayah Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Hadir dalam acara, Presiden RI Bapak Jokowi; Gubernur Provinsi Aceh, Nova Iriansyah; dan Bupati Gayo Lues, Muhammad Amru, memberi sambutan dan mendukungan Literasi Digital Kominfo 2021.

Menurut dia, adanya paradigma media seperti media TV, tren media sosial menjadikan beberapa masalah terkait budaya Nusantara, antara tiruan dan komersialisasi Tari Saman.

Masyarakat awam masih belum dapat membedakan Tari Saman atau bukan, seperti kejadian saat penyelenggaraan Asian Games 2018. Padahal pertunjukan tarian khas Aceh buka Tari Saman tapi Tari Ratoeh Jaroe. “Digital platform terutama media sosial adalah wadah yang tepat untuk lebih mengenalkan warisan budaya Tari Saman Gayo yang sebenarnya,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Guru SMKN 2 Painan Sumatera Barat, Muhammad Dafiikri, menyebut perkembangan teknologi membuat generasi milenial dan gen Aplha kurang memahami budaya yang ada di Indonesia.

“Begitu juga tentang etika digital, hingga kini masyarakat cenderung abai sehingga masih timbul cyber bulliying, hoax, dan penipuan yang tidak mencerminkan budaya Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Pimpinan FullDay Daarul Qur’an, Mahfud Fauzi, mencontohkan, penerapan internet yang tidak sehat diantaranya membuka situs pornografi, plagiat konten orang tanpa minta izin, berekspresi di media sosial tanpa etika dan sebagainya.

Menurutnya, hampir 80% pengguna intenet di ponsel dipakai untuk media sosial dari rata rata durasi 4 jam beraktifitas di internet, 3 jamnya digunakan untuk media sosial.

“Agar dapat berinternet sehat, sebaiknya masyarakat tidak sembarangan klik, batasi pemasangan foto dan video pribadi, komentar sewajarnya, jangan terpancing pertemanan, serta menghindari penyebaran hoax,” pungkas Mahfud Fauzi.