BI Sampaikan Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (26 November 2021)  

98
Bank Indonesia (BI) merilis data terbaru terkait kondisi indikator stabilitas rupiah. Dengan mencermati perkembaangan penyebaran Covid-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik. (Foto:Info31.id/Pool/Dok.BI)

JAKARTA,info31.id — Bank Indonesia (BI) merilis data terbaru terkait kondisi indikator stabilitas rupiah.  Dengan mencermati perkembaangan penyebaran Covid-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, BI memantau idikator nilai tukar dan inflasi pada 22 – 26 November 2021.

Nilai Rupiah pada Kamis, (25/11) Rupiah ditutup pada level (bid) Rp14.265 per dolar AS kemudian  dibuka naik pada Jum’at (26/11) pada level (bid) Rp14.280 per dolar AS.

Kemudian  Yield SBN (Surat Berhaga Negara) 10 tahun pada Kamis,(25/11) stabil pada level 6,17% kemudian naik ke level 6,18% pada Jumat, (26/11) .

Lebih lanjut, Aliran Modal Asing (Minggu IV November 2021) Premi CDS Indonesia 5 tahun naik ke level 79,88 bps per 25 November 2021 dari 76,96 bps per 19 November 2021.

Baca Juga: BI: Uang Beredar Tumbuh Meningkat pada Oktober 2021

Berdasarkan data transaksi 22-25 November 2021, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp1,29 triliun terdiri dari jual neto di pasar SBN sebesar Rp1,77 triliun dan beli neto di pasar saham sebesar Rp0,48 triliun. Berdasarkan data setelmen selama 2021 (ytd), nonresiden jual neto Rp18,59 triliun.

Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu IV November 2021, perkembangan harga pada November 2021 tetap terkendali dan diperkirakan inflasi sebesar 0,34% (mtm). Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi November 2021 secara tahun kalender sebesar 1,27% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,72% (yoy).

Penyumbang utama inflasi November 2021 sampai dengan minggu IV yaitu komoditas telur ayam ras sebesar 0,10% (mtm), minyak goreng sebesar 0,08% (mtm), cabai merah sebesar 0,06% (mtm), emas perhiasan sebesar 0,02% (mtm), sawi hijau, bayam, daging ayam ras, sabun detergen bubuk, angkutan udara dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,01% (mtm). Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi antara lain bawang merah dan tomat masing masing sebesar -0,02% (mtm) dan -0,01% (mtm).

“Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran Covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan,” ujar Erwin Haryono, dalam keterangan resmi, Jum’at, (26/11/2021).