Bahaya Pornografi dan Pelecehan di Ruang Digital

8
Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung. (Foto : Info31.id / Pool / Dok. Kemenkominfo)

NAGAN RAYA, Info31.id – Presiden Republik Indonesia memberikan arahan tentang pentingnya Sumber Daya Manusia yang memiliki talenta digital, dalam webinar, Selasa (14/9/2021). Kemkominfo melalui Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika menyelenggarakan kegiatan Webinar Indonesia Makin Cakap Digital di Wilayah Sumatera di 77 Kab/Kota dari Aceh hingga Lampung.

Terdapat 4 kerangka digital yang akan diberikan dalam kegiatan tersebut, antara lain Kecakapan Digital, Keamanan Digital, Etika Digital dan Budaya Digital. Keynote Speaker Gubernur Provinsi Aceh, Ir. H. Nova Iriansyah, M.T dan Presiden RI Jokowi, memberi sambutan dan mendukung Literasi Digital Kominfo 2021.

Tema besar webinar “Bahaya Pornografi dan Pelecehan di Ruang Digital” oleh para narsum yang mempunyai kompetensi di bidang masing masing serta seorang Key Opinion Leader yang akan memberikan sharing session di akhir webinar.

Di dunia maya terdapat semua hal baik yang positif maupun negatif dan semua itu bagaimana kita menyikapinya. Khairul Zami. S.Pd.,M.Pd menjelaskan bentuk negatif di ruang digital salah satunya adalah berupa sexual harassment (pelecehan seksual).

Menurut data dari Komnas perempuan 2021 bahwa ada 940 kasus yang dilaporkan yang meningkat siginifikan dibanding tahun 2020 (281 kasus) dan 2019 (241 kasus). Komnas Perempuan juga mencatat ada jenis kekerasan seksual yang difasilitasi oleh teknologi digital antara lain pelecehan di dunia maya, penyebaran konten porno, peretasan hingga ancaman penyebaran video intim.

Khairul memberikan tips agar terhindar dari kejahatan seksual di dunia maya diantaranya bekali diri, keuarga dan lingkungan dengan pengetahuan agama, norma dan etika bercengkerama, hindari bergabung dengan komunitas yang tidak jelas di media sosial dan sebagainya.

Dr. Istar,M.Si.FIAS seorang pakar dan anggota Asosiasi Seksologi Indonesia menjelaskan pornografi adalah bentuk pesan di media komunikasi atau di muka umum yang berisi eksploitasi seksual, sedangkan pelecehan seksual adalah bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakuka secara sepihak. Bentuk pelecehan di dunia maya seperti spamming, komentar ajakan dan isyarat seksual, menampilkan gambar, cerita atau benda seksual di depan orang yang tidak berkenan.

Ada 2 dampak di era baru industrilisasi digital yaitu sebagai ancaman dan sebagai peluang seperti yang dijabarkan oleh Dr. Mahfud Fauzi, M.Pd Pimpinan Fullday Daarul Qur’an. Hal ini tercerminkan di Generasi Alpha dimana salah satu karakteristik mereka adalah aktif di media sosial, bergantung pada teknologi, dan daya kreatif yang tinggi. Kita harus menyikapi generasi ini denga hati hati karena mereka akrab dengan yang instan, yang suka bersosialisasi tapi jarang berbagi, tidak terlalu suka peraturan yang baku dan teknologi adalah kebutuhan dasar.

Jadi peran orang tua dan keluarga yang dapat mengarahkan mereka agar menjadi baik dengan cara mendampingi, menjalin komunikasi yang intens, dan membangun kesepakatan. Mizar Liyanda, S.T.P., MP menjelaskan tentang batasan kebebasan berekspresi di dunia digital. Eskpresif Positif antara lain reseller, volgger, droopshiper, endorser, konten kreator dan sebagainya.

Jadi yang perlu diperhatikan adalah tentang batasan batasan berekpresi, lakukan hal positif dan produktif agar keberadaan dunia digital bukan menjadi malapetaka bahkan menjadi sumber penghasilan. Key Opinion Leader oleh Annisa Andarini, seorang Influencer yang menekankan betapa pentingnya peran orang tua yang mengerti dan paham akan lingkungan sekitar, melek digital agar dapat menghindari anak dari kejahatan seksual di dunia maya.