Bagaimana Penanganan Krisis Komunikasi? Begini Kata Agung Laksamana  

10
Acara Webinar Public Relations Bersama Agung Laksamana (kanan atas) yang berjudul Crisis Management Handling for Public Relations ini dihadiri oleh Human Capital, General Support, and Corporate Communication Director FIFGROUP, Esther Sri Harjati (kiri atas), Chief of Corporate Communication and CSR FIFGROUP, Yulian Warman (kanan bawah), dan juga Corporate Communication Department Head, Charles DW Simaremare (kiri bawah).

Jakarta,info31.id – Sebuah peristiwa krisis menjadi tantangan berat bagi perusahaan-perusahaan besar baik di Indonesia maupun dunia. Krisis bisa terjadi tanpa mengenal waktu dan dapat disebabkan oleh berbagai macam hal yang tidak menentu.

Selain menjadi tantangan, krisis juga menjadi sebuah ancaman bagi eksistensi sebuah perusahaan. Parahnya, dapat menjadi penyebab bangkrut hingga tutupnya sebuah perusahaan yang tidak siap dalam menghadapi krisis yang terjadi.

“Sebuah krisis komunikasi adalah sebuah dialog antara perusahaan dengan publiknya sebelum, saat dan sesudah krisis terjadi,” ujar pakar komunikasi Agung Laksamana dalam  Webinar with CorComm Expertise “Crisis Management Handling for Public Relations” yang digelar PT Federal International Finance (FIFGROUP), Senin,(18/10/2021).

Baca juga: SPEKTRA FAIR Hadir di 50 Kota Besar Indonesia

https://www.info31.id/spektra-fair-hadir-di-50-kota-besar-indonesia/

Agung yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat (PERHUMAS) Indonesia memberikan tips dalam menghadapi krisis komunikasi. Menurutnya  saat sebuah krisis datang ada beberapa komponen yang harus diperhatikan yaitu strong leadership, strong communications-content, strong team to support dan 5 Cs:

Commitment

Perusahaan harus memiliki komitmen dalam penanganan krisis. Publik menginginkan informasi yang cepat menggunakan data dan fakta serta ketulusan, mulai dari pimpinan tertinggi sampai dengan karyawan internal untuk hadir sebagai spokesperson dalam menghadapi krisis.

Cooperation

Jangan lari dari krisis, hadapi dengan positif communication. Jika sudah ada krisis, sebuah perusahaan tidak boleh menunda-nunda dalam penyelesaiannya, jangan silent. Publik ingin melihat bahwa perusahaan menerima tanggung jawab serta keinginan untuk mengambil langkah positif.

Care

Perusahaan harus menunjukkan rasa empati yang besar terhadap krisis yang terjadi.

Consistency & Coherency

Harus memiliki tanggung jawab dan konsistensi untuk mau menyelesaikan krisis dari awal mula terjadi sampai selesai.

Clarity

Pesan harus jelas, supaya tidak mudah diplintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, sehingga penting juga untuk mengenali media yang dihadapi.

“Dalam kondisi yang baik, ada 3 komponen dalam PR yaitu engage them (membangun hubungan yang baik dengan seluruh stakeholders seperti media, customer, pemerintah dan-lain-lain), educate them (dengan membangun kepercayaan), dan inspire them (melalui reputasi yang baik, karena ini merupakan investasi),” ujar Agung yang saat ini juga menjabat Executive Vice President PT Freeport Indonesia,.

Dalam kesempatan yang sama, Human Capital, General Support, and Corporate Communication Director FIFGROUP, Esther Sri Harjati mengatakan, sebuah perusahaan yang agile harus memiliki kesiapan dalam menghadapi setiap krisis yang terjadi. Krisis, lanjut Ester, apapun bentuknya, krisis berpotensi memperlambat perkembangan bisnis perusahaan.

“Tanpa adanya manajemen yang baik, krisis akan menjadi musuh besar bagi sebuah perusahaan. Oleh karena itu, melalui webinar ini, setiap insan FIFGROUP diharapkan dapat memiliki sense of crisis atau kemampuan dan pemahaman bagaimana dalam menghadapi setiap krisis yang dapat terjadi pada sebuah perusahaan, khususnya FIFGROUP,” kata Esther.

Acara webniar ini juga dihadiri oleh Chief of Corporate Communication and Corporate Social Responsibility (CSR) Yulian Warman yang juga memberikan closing speech, serta Corporate Communication Department Head Charles DW Simaremare.